tips mendaftar ibadah umroh dengan aman


TIPS memilih travel UMROH






setiap tahun peminat jamaah untuk melaksanakan ibadah umroh ke tanah suci sangat meningkat,menurut data statistik peminat jamaah di tahun 2015 melonjak hingga 70% dari tahun sebelumnya hal ini sangat menarik dan di perhatikan oleh pihak-pihak pengurus jamaah umroh,
hal ini disebabkan karena pembatasan kuota haji di tanah air yang di batasi oleh pemerintah Saudi karena adanya pembangunan di makkah oleh karena itu jamaah yang mengingkan melaksankan jamaah haji akan menunggu paling cepet sekitar 10 tahunan atau lebih karena antrian dan peminat sangat banyak khususnya di Indonesia.namun baru-baru ini pemerintah arab Saudi memberikan kabar segar dengan adanya penambahan kuota haji setelah proses installasi di makkah selesai yang entah kapan akan dilakukan.

Mengenai haji yang sangat lama menantinya pemerintah memberi trobosan-trobosan solusi dengan memberi dukungan bagi travel-travel umroh dan haji untuk memberikan fasilitator untuk jamaah agar bisa melakukan ibadah umroh ke tanah suci dengan aman dan nyaman.

Pemerintah juga sangat serius tentang menggarap izin dan peraturan ke travel-travel agar jamaah merasa aman dan nyaman melakukkan ibadah umroh sebagai solusi untuk menunggu lamannya antrian untuk ibdah haji,pemerintah memberikan syarat dan ketentuan yang sanggat ketat kepada travel untuk pihak travel agar dapat memperoleh izin memberangkat jamaah.

Walaupun banyak kasus penipuan pada travel umroh sebenarnya kita sangat mudah untuk mengecek apakah kita akan aman mendaftarkan diri kita untuk beribadah umroh dengan mengecek legalitas PTMADANITOUR malang dan berkunjung di kantor resminya untuk memastikan bahwa kita akan aman ibadah dengan travel tersebut,kita tidak perlu kwatir akan tertipu jika semua legalitas tersebut sudah terpenuhi karena pemerintah telah menjamin anda dengan legalitas travel yang sudah di kantongi PT tersebut.


Beberapa travel umroh saat ini berlomba-lomba untuk memberi harga dan pelayanan terbaik kepada jamaahnya,oleh karena itu jamaah bisa langsung menanyakan kepada pihak travel missal madanitour untuk mempeoleh harga promosi dan harga terbaik untuk paket perjalan anda.dengan legalitas yang sudah dikantongi PT sudah dapat menjamin anda untuk beribdah dengan khusu.


Satu hal yang paling penting adalah kenyamanan dan kekhusukan anda,jadi jangan ragu untuk melakukan pendaftaran pihak penyelengara untuk mewujudkan niat anda menjalani ibadah umroh,dan semoga ibadah anda mabrur dan disegerakan diundang ke baitullah .amin amin amin 

tempat doa mujarab


Keistimewaan raudhah









Kenapa raudhah di masjid nabi sangat banyak di bicarakan kita orang hendak pergi haji/umroh.team artikel madani akan merangkumnya untuk para pembaca,karena memang ruadhah adalah salah satu tempat istimewa untuk berdoa ketika berada di tanah suci
Setidaknya ada 232 buah pilar atau tiang di Masjid Nabawi. Di antara ratusan pilar tersebut, ada beberapa pilar yang memiliki sejarah dan arti khusus. Meskipun beberapa kali mengalami perluasan –Alhamdulillah-, tempat-tempat tiang-tiang ini tetap terjaga. Sekarang, tiang-tiang itu diberi tanda untuk dikenali para peziarah.
Pada masa Rasulullah , tiang-tiang Masjid Nabawi terbuat dari pohon kurma. Tiang-tiang tersebut terletak di Raudhah Syarifah yang luasnya 144 m2. Berikut ini adalah nama-nama tiang (usthuwaanah) yang berada di dalam Raudhah Masjid Nabawi:
1.       Al-Usthuwaanah al-Mukhalqah
2.       Al-Usthuwaanah al-Qur’ah atau Usthuwaanah Aisyah
3.       Usthuwaanah At-Taubah/Usthuwaanah Abu Lubabah
4.       Usthuwaanah As-Sarir
5.       Usthuwaanah Al-Haras
6.       Usthuwaanah al-Wufud

Banyak orang yang mengunjungi masjid Nabi tidak menyadari pilar ini atau tidak mengetahui latar belakang sejarahnya. Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan gambaran tentang letak dan latar belakang sejarah tiang-tiang tersebut. Dan jika Anda ditakdirkan berkunjung ke Masjid Rasulullah , Anda akan lebih meresapi jejak-jejak Rasulullah dan para sahabatnya di sana:
Pertama: Ustuwanaah al-Mukhallaqah

Makna dari al-Mukhallaqah adalah al-Muthayyabah yang diberi minyak wangi. Dari kata al-khaluq yang artinya parfum.
Jabir bin Abdullah mengatakan, “Orang pertama yang memberi wewangian pada Masjid Nabawi adalah Utsman bin Affan radhillahu ‘anhu. Ketika orang-orang Khaizuran datang berhaji pada tahun 70 H, diperintahkan agar masjid diberi wewangian. Yang menangani pemberian wewangian pada masjid ini adalah seorang wanita. Maka dia memberi wewangian seluruh bagian masjid termasuk kamar Nabi .
Diriwayatkan dari as-Samhudi dari Ibnu Zubalah bahwa Nabi melaksanakan shalat wajib di tiang ini selama beberapa belas hari setelah perubahan arah kiblat.
Salamah bin al-Akwa’ radhiallahu ‘anhu mengupayakan untuk shalat di tiang ini. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab, “Aku melihat Rasulullah biasa shalat di tiang ini.Dan hingga sekarang, khususnya bagian raudhah Masjid Nabawi, dibersihkan dengan air mawar setiap hari.
Kedua: al-Usthuwaanah al-Qur’ah atau Ustuwanaah Aisyah



Pilar ini juga disebut “Utswaanah Qur-ah” atau tiang undian. Tiang ini juga disebut dengan tiang Muhajirin. Karena sahabat-sahabat Muhajirin sering duduk di dekatnya. Tempat ini awalnya digunakan Nabi sebagai tempat shalat.
Tiang Aisyah terletak di tengah al-Rhaudhah asy-Syarifah. Yaitu tiang ketiga jika dihitung antara dinding makam Rasulullah dan mimbar nabi. Tiang ini dinamai dengan “Usthuwaanah Aisyah” sebagai pengingat dan penghormatan kepada perjuangan Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha dalam penyebaran Islam.
Ketiga: al-Usthuwaanah At-Taubah/Usthuwaanah Abu Lubabah



Tiang ini merupakan tiang keempat dari mimbar, yang kedua dari kubur, dan yang ketiga dari arah kiblat. Tiang ini disebut tiang Abu Lubabah, yakni seorang sahabat Nabi yang namanya adalah Rifaah bin Abdul Mundzir
Pada Perang Bani Quraizhah, Rasulullah mengutus Abu Lubabah radhiallahu ‘anhu kepada Bani Quraizhah. Melihat kedatangan Abu Lubabah, orang-orang Yahudi; laki-laki, wanita-wanita, dan anak-anak berlarian kepadanya. Kemudian mereka menangis hingga Abu Lubabah merasa iba pada mereka. Orang-orang Yahudi Bani Quraizhah berkata kepada Abu Lubabah, “Hai Abu Lubabah, bagaimana pendapatmu kalau kami tunduk kepada hukum Muhammad?” Abu Lubabah menjawab, “Ya”. Abu Lubabah berkata seperti itu sambil memberi isyarat dengan tangan ke tenggorokannya, yang artinya siap-siaplah kalian mati.
Abu Lubabah menyesali apa yang ia ucapkan. Ia berkata, “Aku tidak beranjak dari tempatku ini hingga Allah menerima taubatku atas perbuatanku. Aku berjanji kepada Allah agar selama-lamanya tidak diperlihatkan pada negeri yang di dalamnya aku pernah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya”.
Ibnu Hisyam mengatakan, “Abu Lubabah mengikat diri pada tiang masjid selama enam hari. Pada masa itu, istrinya datang di setiap waktu shalat untuk melepaskan ikatan agar ia bisa mengerjakan shalat. Usai shalat, ia kembali mengikat diri”.
Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, berkata, “Taubat Abu Lubabah diterima Allah”. Kemudian ia bertanya kepada Rasulullah , Bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada Abu Lubabah? Beliau bersabda, Silakan, jika engkau mau. Ummu Salamah berdiri di depan pintu kamarnya –itu terjadi sebelum hijab diwajibkan– kemudian berkata, “Hai Abu Lubabah, bergembiralah, karena Allah telah menerima taubatmu”. Para sahabat pun mengerumuni Abu Lubabah untuk melepaskan ikatannya, namun ia berkata, “Tidak, demi Allah, aku tidak mau, hingga Rasulullah sendiri yang melepaskanku dengan tangannya”. Ketika Rasulullah , keluar untuk menunaikan shalat subuh, beliau berjalan melewati Abu Lubabah, kemudian melepaskan ikatannya.
Keempat: Usthuwaanah as-Sarir (ranjang)





As-sarir artinya ranjang. Di tempat ini Rasulullah biasa beriktikaf. Beliau letakkan tempat tidurnya yang terbuat dari pelepah kurma, lalu berbaring di tempat ini. Karena itulah tiang ini dinamakan tiang as-sarir. Tiang ini terletak di sebelah Timur tiang Abu Lubabah.
Kelima: Usthuwaanah al-Hars
Di belakang (bila dilihat dari sisi Utara) tiang as-sarir, berdiri kokoh tiang al-Haras (penjagaan). Apabila berjumpa dengan masyarakat, Rasulullah duduk di tempat ini dan dijaga oleh para sahabatnya. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu adalah yang paling sering menjaga beliau. Karena itu pula tiang ini dinamakan tiang Ali. Ketika Allah menurunkan firman-Nya,
وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ
“Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (QS:Al-Maidah | Ayat: 67).
Keenam: Usthuwaanah al-Wufud
Dari sisi utara, tiang ini terletak di belakang tiang al-Haras. Rasulullah biasa duduk di sini tatkala menyambut para utusan dari bangsa Arab yang datang ke Madinah.
Penutup
Tempat-tempat ini mengingatkan kita kepada Rasulullah dan para sahabatnya. Dulu, beliau dan para sahabatnya pernah shalat, duduk, dan bercakap di tempat-tempat ini. Sebagaimana Abu Bakar pernah teringat Nabi satu tahun setelah beliau wafat. Abu Bakar naik ke atas mimbar kemudian mengucapkan, Sesungguhnya Rasulullah pernah berdiri di tempat aku berdiri sekarang…” lalu beliau menangis karena teringat akan Rasulullah .
Pada zaman Umar bin al-Khattab, saat ia dan kaum muslimin masuk ke wilayah Syam, di waktu shalat Bilal bin Rabah mengumandangkan adzan. Saat sampai lafadz “asyhadu anna Muhammad Rasulullah” semua kaum muslimin menangis. Mereka teringat saat Bilal mengumandangkan adzan di masa Rasulullah .
Subhanallah segala puji bagi allah tuhan semesta lama,semoga kita senantiasa dalam lindunganya dan berjalan melalui ridhonya,semoga pula kita cepet segara di undang ke baitulah menjalankan perintahnya aminn ya raboola alamin. (artklmdn2016)


amalan ketika gerhana matahari

Amalan saat gerhana







Boleh berbangga dan bersyukur untuk tahun 2016 ini para astronom memprediksikan akan terjadi gerhana matahari,fenomena ini sangangat jarang
terjadi atau bisa di bilang peristwa langka.pasalnya gerhana ini akan terjadi di negri tercinta indonesia yang di perkirakan terjadi pada sekitran bulan maret.
Atas adanya peristiwa langka tersebut ada beberapa amalan khususnya kita yang berkeyakinan islam,yang beberapa sunnah yang dianjurkan pada moment tersebut,
tak lain hanya untuk bersyukur dan mengagumi kuasa sang pencipta (allah)

Pertama: perbanyaklah dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan bentuk ketaatan lainnya.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044)


Kedua: keluar mengerjakan shalat gerhana secara berjama’ah di masjid.

Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini sebagaimana dalam hadits dari ’Aisyah bahwasanya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengendari kendaraan di pagi hari lalu terjadilah gerhana. Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melewati kamar istrinya (yang dekat dengan masjid), lalu beliau berdiri dan menunaikan shalat. (HR. Bukhari no. 1050). Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mendatangi tempat shalatnya (yaitu masjidnya) yang biasa dia shalat di situ. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1: 343)
Ibnu Hajar mengatakan, ”Yang sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah mengerjakan shalat gerhana di masjid. Seandainya tidak demikian, tentu shalat tersebut lebih tepat dilaksanakan di tanah lapang agar nanti lebih mudah melihat berakhirnya gerhana.” (Fathul Bari, 4: 10)
Apakah mengerjakan dengan jama’ah merupakan syarat shalat gerhana?
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan, ”Shalat gerhana secara jama’ah bukanlah syarat. Jika seseorang berada di rumah, dia juga boleh melaksanakan shalat gerhana di rumah. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,
فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا
“Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalatlah”. (HR. Bukhari no. 1043)
Dalam hadits ini, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam tidak mengatakan, ”(Jika kalian melihatnya), shalatlah kalian di masjid.” Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa shalat gerhana diperintahkan untuk dikerjakan walaupun seseorang melakukan shalat tersebut sendirian. Namun, tidak diragukan lagi bahwa menunaikan shalat tersebut secara berjama’ah tentu saja lebih utama (afdhol). Bahkan lebih utama jika shalat tersebut dilaksanakan di masjid karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengerjakan shalat tersebut di masjid dan mengajak para sahabat untuk melaksanakannya di masjid. Ingatlah, dengan banyaknya jama’ah akan lebih menambah kekhusu’an. Dan banyaknya jama’ah juga adalah sebab terijabahnya (terkabulnya) do’a.” (Syarhul Mumthi’, 2: 430)


Ketiga: wanita juga boleh shalat gerhana bersama kaum pria

Dari Asma` binti Abi Bakr, beliau berkata,
أَتَيْتُ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – زَوْجَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – حِينَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ ، فَإِذَا النَّاسُ قِيَامٌ يُصَلُّونَ ، وَإِذَا هِىَ قَائِمَةٌ تُصَلِّى فَقُلْتُ مَا لِلنَّاسِ فَأَشَارَتْ بِيَدِهَا إِلَى السَّمَاءِ ، وَقَالَتْ سُبْحَانَ اللَّهِ . فَقُلْتُ آيَةٌ فَأَشَارَتْ أَىْ نَعَمْ
“Saya mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika terjadi gerhana matahari. Saat itu manusia tengah menegakkan shalat. Ketika Aisyah turut berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya: “Kenapa orang-orang ini?” Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah)”. Saya bertanya: “Tanda (gerhana)?” Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan iya.” (HR. Bukhari no. 1053)
Bukhari membawakan hadits ini pada bab:
صَلاَةِ النِّسَاءِ مَعَ الرِّجَالِ فِى الْكُسُوفِ
“Shalat wanita bersama kaum pria ketika terjadi gerhana matahari.”
Ibnu Hajar mengatakan,
أَشَارَ بِهَذِهِ التَّرْجَمَة إِلَى رَدّ قَوْل مَنْ مَنَعَ ذَلِكَ وَقَالَ : يُصَلِّينَ فُرَادَى
“Judul bab ini adalah sebagai sanggahan untuk orang-orang yang melarang wanita tidak boleh shalat gerhana bersama kaum pria, mereka hanya diperbolehkan shalat sendiri.” (Fathul Bari, 4: 6)
Kesimpulannya, wanita boleh ikut serta melakukan shalat gerhana bersama kaum pria di masjid. Namun, jika ditakutkan keluarnya wanita tersebut akan membawa fitnah (menggoda kaum pria), maka sebaiknya mereka shalat sendiri di rumah. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1: 345)


Keempat: menyeru jama’ah dengan panggilan ’ash sholatu jaami’ah’ dan tidak ada adzan maupun iqomah.

Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan,
أنَّ الشَّمس خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَبَعَثَ مُنَادياً يُنَادِي: الصلاَةَ جَامِعَة، فَاجتَمَعُوا. وَتَقَدَّمَ فَكَبرَّ وَصلَّى أربَعَ رَكَعَاتٍ في ركعَتَين وَأربعَ سَجَدَاتٍ.
“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil jama’ah dengan: ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Muslim no. 901) . Dalam hadits ini tidak diperintahkan untuk mengumandangkan adzan dan iqomah. Jadi, adzan dan iqomah tidak ada dalam shalat gerhana.
Kelima: berkhutbah setelah shalat gerhana

Disunnahkah setelah shalat gerhana untuk berkhutbah, sebagaimana yang dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Ishaq, dan banyak sahabat (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1: 435). Hal ini berdasarkan hadits:

عَنْ عَائِشةَ رَضي الله عَنْهَا قَالَتْ: خَسَفَتِ الشمسُ عَلَى عَهدِ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم. فَقَامَ فَصَلَّى رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم بالنَّاس فَأطَالَ القِيَام، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ، ثُمَّ قَامَ فَأطَالَ القيَامَ وَهو دُونَ القِيَام الأوَّلِ، ثم رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكوعَ وهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُم سَجَدَ فَأطَالَ السُّجُودَ، ثم فَعَلَ في الركعَةِ الأخْرَى مِثْل مَا فَعَل في الركْعَةِ الأولى، ثُمَّ انصرَفَ وَقَدْ انجَلتِ الشَّمْسُ، فَخَطبَ الناسَ فَحَمِدَ الله وأثنَى عَليهِ ثم قالَ:
” إن الشَّمس و القَمَر آيتانِ مِنْ آيَاتِ الله لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أحد. وَلاَ لِحَيَاتِهِ. فَإذَا رَأيتمْ ذلك فَادعُوا الله وَكبروا وَصَلُّوا وَتَصَدَّ قوا”.
ثم قال: ” يَا أمةَ مُحمَّد ” : والله مَا مِنْ أحَد أغَْيَرُ مِنَ الله سُبْحَانَهُ من أن يَزْنَي عَبْدُهُ أوْ تَزني أمَتُهُ. يَا أمةَ مُحَمد، وَالله لو تَعْلمُونَ مَا أعلم لضَحكْتُمْ قَليلاً وَلَبَكَيتم كثِيراً “.

Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama.

Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak.
Setelah itu beliau berkhotbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda,

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.”
Nabi selanjutnya bersabda,

“Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari, no. 1044)

Khutbah yang dilakukan adalah dua kali khutbah sebagaimana pada Khutbah Jumat dan Khutbah Ied. (Kifayatul Akhyar, hal. 202).

semoga kita senantiasa di beri kenikmatan,hidayah dan selalu di pertolongan serta petunjuk baginya amin -amin ya rabbal alamin (artikelmadani)



apa akibat ketegangan di timur tengah??





      Akhir - akhir ini kita sering mendengar gejolak di timur tengah,antara arab saudi dan iran yang mengakibatkan sektor bisnis di belahan dunia mengakibatkan ketar ketir sejumlah negara besar seperti Amerika Rusia china dan lainnya.
kenapa bisa terjadi seperti itu,ini karena beberapa negara besar menaglami kebangkrutsn dan pelemahan politik,

       Harga minyak mentah berjangka naik pada perdagangan awal pekan. Akan tetapi, harga minyak ditutup di bawah level puncak intraday karena kekhawatiran terhadap Iran dan gejolak di Yaman. Sementara itu, pasokan minyak terus membanjiri.
Harga minyak mentah jenis Brent naik 6 sen menjadi US$ 57,93 per barel setelah bergerak fluktuaktif di US$ 57,46-US$ 59,54.

Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) naik 27 sen menjadi US$ 51,91. Harga minyak mentah ini sempat berada di level puncak US$ 53,10 di bawah rata-rata harga harian di level US$ 53,18.

Sejumlah sentimen mempengaruhi laju harga minyak. Di awal pekan ini, Iran mendesak Yaman membentuk pemerintahan baru. Desakan itu dilakukan karena kekecewaan Iran terhadap sesama anggota OPEC Arab Saudi yang mendukung Presiden Yaman melawan kekuatan pemberontak bersekutu dengan Iran.

Selain itu, Menteri Luar Negeri AS John Kerry juga menyuarakan keprihatinan terhadap Rusia yang memutuskan mencabut larangan pengiriman rudal ke Iran.

Para pejabat AS tidak berpikir keputusan Rusia memberikan sistem rudal ke Iran akan mempengaruhi persatuan negara-negara besar dalam pembicaraan nuklir yang sedang berlangsung.
Sementara itu, data ekspor China melemah juga menambah kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi di negara tersebut. Hal itu mengingat China sebagai konsumen minyak dunia nomor dua. Akan tetapi, sisi lain itu memicu harapan ada stimulus ekonomi.

"Stimulus China akan menyebabkan lebih banyak permintaan," kata Phil Flynn, Analis Price Futures Group seperti dikutip dari laman Reuters, Selasa (14/4/2015).

Sementara itu, proyeksi pemerintah terhadap produksi minyak dari shale juga jatuh sekitar 45 ribu barel per hari pada Mei. Jumlah rig pengeboran minyak AS membukukan penurunan terbesar dalam sebulan. Ini juga membantu kenaikan harga minyak. (madani/tour&travel)

Gagal paham terkait toleransi agama di jiwa muda mudi sekarang


Miris Muda Mudi sekarang



Sebanyak 14 mahasiswa Universitas Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, menghadiri ibadah Malam Natal, di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Margoyudan, Jalan Monginsidi, Solo, pada Kamis (24/12/15) malam. Di sela kunjungan, para mahasiswa muslim itu sempat meminta izin menunaikan salat.

Para mahasiswa sempat meminta izin untuk melakukan salat Magrib dan Isya di gereja. Karena tidak mempunyai tempat khusus, Pendeta Wahyu Nugroho, yang juga dosen mereka, meminjamkan ruangan pribadinya buat dipakai salat.
“Saat ibadah berlangsung kan melewati waktunya salat Magrib atau Isya gitu. Mereka meminta izin untuk melaksanakan salat. Dan pak pendeta memberikan kamarnya untuk mereka salat,” kata Sekretaris umum GKJ Margoyudan, Winantyo Atmojo DJ, saat ditemui merdeka.com di Aula GKJ Margoyudan, Jumat (25/12/15) siang.

Winantyo menceritakan, kedatangan para mahasiswa muslim itu mendapat sambutan hangat dari ribuan jemaat yang hadir. Kehangatan terlihat saat mereka diperkenalkan kepada para jemaat. Tepuk tangan riuh dari jemaat dan mereka lantas spontan berdiri.
“Pendeta kami, pak Wahyu Nugroho, memang sengaja memperkenalkan mereka pada para jemaat. Di tengah-tengah suasana peribadatan, mereka diperkenalkan. Kami semua berdiri dan memberikan tepuk tangan dan bersalaman,” ujar Winantyo.

Winantyo menambahkan, para mahasiswa itu menghadiri peribadatan dari awal hingga selesai. Namun, mereka tidak mengikuti prosesi peribadatan dan hanya mengamati saja. Usai misa malam Natal, mereka sempat bersalaman dengan jemaat dan berfoto bersama pemuda gereja.
“Ini kebanggaan tersendiri bagi kami. Baru kali ini mendapatkan kunjungan seperti ini. Kami terbuka, siapapun yang mau berkunjung silakan, tidak ada syarat khusus, kecuali kalau atas nama lembaga resmi. Kami ingin menunjukkan bahwa antara muslim dan Nasrani memang tidak pernah ada rasa permusuhan. Para mahasiswa muslim juga telah membuktikan dan memberikan contoh yang baik bagi kerukunan umat beragama di dunia,” ucap Winantyo
[merdeka.com/artikelmadani]

silahkan download brousur terbaru UMROH bersama madani tour

 


Ka'bah bukan untuk di Sembah

Ka'bah Bukan Tuhan




Ka’bah merupakan kiblat, yaitu arah yang menjadi patokan umat Muslim ketika melaksanakan shalat. Penting untuk dicatat bahwa meskipun Muslim menghadap ke arah Ka’bah ketika shalat, umat Muslim tidak menyembah Ka’bah. Muslim beribadah dan menyembah hanya kepada Allah.
Hal ini disebutkan dalam Surat Baqarah:
“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Qs. Al-Baqarah 2:144)
1. Islam ingin membina persatuan
Misalnya, jika umat Islam ingin melaksanakan shalat, sebagian Muslim mungkin ingin menghadap utara, sementara sebagian lainnya mungkin ingin menghadap selatan. Dalam rangka untuk menyatukan umat Islam dalam ibadah mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa, di manapun mereka berada, umat Islam diminta untuk menghadap hanya ke satu arah, yaitu ke arah Ka’bah. Jika sebagian Muslim tinggal di sebelah barat dari Ka’bah, maka mereka akan menghadap ke timur. Demikian pula jika mereka tinggal di sebelah timur dari Ka’bah, maka mereka akan menghadap ke barat.

2. Ka’bah berada di Tengah-tengah Peta Dunia
Umat Muslim adalah orang-orang pertama yang menggambar peta dunia. Umat Muslim menggambar peta dengan arah selatan menghadap ke atas dan utara menghadap ke bawah. Ka’bah berada di tengah-tengahnya. Pada masa kemudian, kartografer Barat menggambar peta terbalik dengan utara menghadap ke atas dan selatan ke bawah. Meski begitu, Alhamdullilah Ka’bah tetap menjadi titik tengah dari peta dunia.
3. Tawaf di sekitar Ka’bah untuk menunjukkan bahwa Allah hanya satu (Esa)
Ketika umat Muslim pergi ke Masjidil Haram di Mekkah, mereka melakukan tawaf atau memutari Ka’bah dalam bentuk lingkaran. Tindakan ini melambangkan keyakinan dan penyembahan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini karena sebagaimana lingkaran itu hanya memiliki satu titik tengah, dengan demikian juga hanya ada satu Allah (swt) yang layak disembah.
4. Hadist dari Umar (r.a)
Mengenai batu hitam, hajar aswad, ada hadist dari salah seorang Sahabat terkenal Nabi Muhammad (saw), yaitu Umar (r.a).
Menurut Sahih Bukhari, Volume 2, Kitab Haji, pasal 56, No. 675. Umar (r.a) berkata, “Aku tahu bahwa engkau (hajar aswad) hanyalah batu yang tidak dapat memberi keuntungan atau mencelakakan. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah (saw) menyentuh dan menciummu, aku tidak akan pernah menyentuh dan menciummu.”
5. Orang-orang berdiri di atap Ka’bah dan mengumandangkan adzan
Pada zaman Rasulullah (saw), orang-orang bahkan berdiri di atap Ka’bah dan mengumandangkan adzan. Seseorang mungkin bisa bertanya pada orang-orang yang menuduh bahwa umat Islam menyembah Ka’bah; “Penyembah berhala manakah yang berdiri di atas berhala yang dipuja-puja dan disembahnya?

 Kami antar anda ke Baitullah kunjungi www.madanitour.co.id